Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka baru-baru ini melakukan peninjauan ke Jembatan Anak Laut di Desa Gosong Telaga Barat, Kabupaten Aceh Singkil, Aceh. Jembatan yang terbuat dari beton ini mengalami kerusakan parah akibat banjir bandang yang melanda wilayah tersebut, memaksa warga untuk beradaptasi dengan situasi darurat.
Di lokasi tersebut, Wapres tidak hanya menilai keadaan infrastruktur, tetapi juga mendengarkan laporan dari pemerintah daerah dan tim penanganan bencana. Kegiatan ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menangani dampak bencana alam yang terjadi belakangan ini.
Evaluasi Infrastruktur dan Dampak Kebencanaan di Aceh Singkil
Pemeriksaan Jembatan Anak Laut merupakan bagian dari upaya lebih luas untuk mengevaluasi kerusakan yang terjadi. Mengetahui kondisi infrastruktur yang rusak sangat penting untuk membantu proses pemulihan bagi masyarakat setempat.
Menurut laporan yang diterima, setelah kerusakan jembatan, dua perahu sampan menjadi satu-satunya cara untuk menyeberangi sungai. Hal ini menunjukkan bagaimana bencana alam dapat mengganggu akses dan mobilitas warga secara drastis.
Wapres juga mendapatkan rincian dari Bupati Aceh Singkil, Safriadi Oyon, mengenai penyebab utama bencana ini. Hujan ekstrem yang terjadi sejak pertengahan November 2025 menjadi pemicu utama dari kejadian banjir dan longsor yang melanda daerah tersebut.
Penyebab dan Sejarah Kebencanaan di Wilayah Tersebut
Safriadi mengungkapkan bahwa kelemahan infrastruktur dan kurangnya kesiapsiagaan masyarakat berkontribusi pada besarnya dampak yang ditimbulkan. Ia menjelaskan bahwa kejadian serupa belum pernah terjadi dalam dua abad, membuat masyarakat terkejut dan tidak siap menghadapi situasi ini.
Warga setempat pun merasa khawatir akan kondisi yang terus memburuk setiap harinya. Dengan sembilan kecamatan dan 67 desa yang terdampak, kerusakan yang terjadi sangat luas dan mencakup banyak aspek kehidupan.
Selain kerusakan fisik, bencana ini juga menyebabkan ratusan warga terpaksa mengungsi. Proses evakuasi menjadi hal mendesak untuk memastikan keselamatan masyarakat di daerah yang terdampak parah.
Upaya Penanganan dan Pemulihan yang Dilakukan Pemerintah
Pemerintah daerah, bekerja sama dengan TNI dan Polri, segera merespons dengan membuka akses jalan kembali dan menyalurkan bantuan. Pembenahan infrastruktur yang rusak menjadi prioritas untuk memulihkan kehidupan warga secepatnya.
Safriadi juga menjelaskan bahwa distribusi logistik menjadi tantangan tersendiri. Mengingat kerusakan jembatan dan akses jalan, bantuan harus disalurkan menggunakan sampan karet dan perahu motor untuk mencapai masyarakat yang membutuhkan.
Strategi yang diterapkan oleh pemerintah daerah dalam penanganan bencana ini menjadi model untuk situasi serupa di masa depan. Mengingat cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi, kesiapsiagaan menjadi hal yang krusial bagi masyarakat dan pemerintah.











