Banjir yang melanda wilayah penghubung antara Pasir Putih dan Cipayung di Depok telah menjadi masalah yang tak kunjung usai. Dalam beberapa tahun terakhir, akses jalan tersebut terjebak dalam genangan air, yang diakibatkan oleh luapan Kali Pesanggrahan, menciptakan situasi mirip danau di lokasi yang seharusnya lancar dilalui kendaraan.
Dengan kondisi ini, banyak warga yang merasakan dampak negatif. Setiap kali musim hujan datang, luapan air kembali menyisakan kerugian bagi masyarakat setempat, membuat mereka berada dalam posisi sulit selama berhari-hari.
Krisis Infrastruktur yang Berkepanjangan di Daerah Terkena Banjir
Perbaikan infrastruktur seharusnya menjadi bagian penting dalam penanganan bencana alam. Sayangnya, berbagai upaya yang dilakukan Pemerintah Kota Depok tidak membuahkan hasil yang signifikan untuk menyelesaikan masalah ini.
Warga desa terus menerus merasakan dampaknya, bukan hanya dari segi mobilitas, namun juga dalam kehidupan sehari-hari mereka. Selama bertahun-tahun, masyarakat terpaksa beradaptasi dengan kondisi yang tidak ideal ini, hingga mereka menciptakan solusi mandiri.
Di tengah ketidakpastian penanganan banjir ini, muncul kreativitas masyarakat. Mereka telah mulai mengembangkan sarana transportasi alternatif untuk mengatasi masalah aksesibilitas akibat banjir yang terus melanda.
Usaha masyarakat dalam menciptakan sebuah perahu getek mengingatkan kita akan ketahanan dan daya juang mereka. Ini adalah perjuangan yang tidak hanya melibatkan satu atau dua orang, tetapi seluruh lapisan masyarakat yang terpengaruh.
Inisiatif Komunitas dalam Mengatasi Masalah Banjir
Melihat kondisi jalan yang terputus, warga mulai membangun perahu getek untuk melintasi banjir. Hal ini merupakan upaya kreatif yang mencerminkan pragmatisme warga yang berupaya menyelesaikan masalah tanpa menunggu bantuan resmi dari pemerintah.
Dita Janu Widayanti, salah satu warga yang terlibat, menyatakan bahwa ini adalah langkah yang diambil sebagai respons terhadap situasi mendesak. Getek yang terbuat dari bahan-bahan sederhana memberikan solusi cepat bagi warga untuk berpindah tempat.
Inisiatif seperti ini menyoroti pentingnya kesadaran kolektif dalam komunitas. Ketika pemerintah tidak dapat memberikan solusi yang efektif, masyarakat pun bergerak untuk membantu satu sama lain dalam keadaan darurat.
Seluruh proses pembuatan getek menjadi simbol harapan bagi warga yang terjebak dalam banjir. Dengan mengutamakan kerja sama, mereka bisa melanjutkan kehidupan sehari-hari meski tehadap rintangan yang ada.
Ketidakpastian Penanganan Banjir di Depok
Banyaknya kunjungan dari pemerintah daerah ke wilayah-wilayah yang terdampak tidak serta merta menghasilkan tindakan yang nyata. Warga menyatakan bahwa meski ada perhatian, implementasi solusi kerap terlambat atau tidak ada sama sekali.
Dalam hal ini, Dita juga mengungkapkan harapannya agar pemerintah mengambil tindakan yang lebih berani dan tepat dalam menangani masalah banjir ini. Dengan akses yang terputus, mereka hanya bisa berharap pihak berwenang memberikan solusi jangka panjang.
Masyarakat terus berharap agar ke depannya masalah ini dapat teratasi dengan baik, sehingga mereka tidak lagi mengandalkan solusi sementara yang rentan terhadap cuaca ekstrem. Kesedihan dan frustrasi telah menjadi bagian dari rutinitas mereka.
Banjir bukan hanya tentang genangan air, tetapi juga tentang hidup yang terhenti dan harapan yang menyusut. Penanganan yang lambat membawa dampak jangka panjang bagi kemajuan daerah ini.











