Produksi mobil listrik di Indonesia baru-baru ini dilaporkan mengalami penghentian akibat masalah serius yang dialami oleh prinsipal di China. Situasi ini telah memicu kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap industri otomotif domestik yang tengah berkembang pesat.
Meski stok bahan baku dan unit kendaraan masih tersedia, aktivitas manufaktur di dalam negeri tampaknya terdampak oleh keputusan tersebut. Pihak Handal Indonesia Motor (HIM), sebagai rekanan manufaktur, telah mengonfirmasi bahwa produksi mobil Neta telah berhenti.
“Saat ini berhenti,” kata Komisaris HIM, Jongkie D Sugiarto, ketika diwawancarai di Jakarta pada Jumat lalu. Ia menekankan bahwa penghentian ini sudah berlangsung selama enam bulan terakhir, menunjukkan adanya isu yang lebih dalam dalam rantai pasokan.
Dampak Penghentian Produksi pada Industri Otomotif Indonesia
Dampak dari penghentian produksi mobil listrik ini tidak hanya mempengaruhi perusahaan yang terlibat secara langsung. Industri otomotif yang lebih luas juga dapat merasakan efek domino dari keputusan ini, mengingat pentingnya elektrifikasi untuk masa depan kendaraan.
Jongkie juga menjelaskan bahwa meski proses produksi telah dihentikan, pasokan bahan baku masih tersedia di pabrik. Ini menunjukkan bahwa pabrik memiliki kesiapan untuk kembali beroperasi jika situasi membaik di masa mendatang.
Namun, ketidakpastian tetap menghantui status merek Neta di Tanah Air. Pengendalian sepenuhnya berada di tangan Agen Pemegang Merek (APM), yang memperumit situasi bagi pihak manufaktur dan konsumen.
Status Keanggotaan Neta dan Reaksi Pasar
Sebuah pertanyaan besar yang muncul adalah mengenai keanggotaan Neta dalam Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Jongkie memastikan bahwa meskipun produksi terhenti, Neta masih terdaftar sebagai anggota Gaikindo.
Keanggotaan dalam Gaikindo menunjukkan bahwa perusahaan ini tetap memiliki komitmen terhadap industri otomotif nasional, meskipun dalam kondisi yang sulit. Hal ini dapat menjadi indikasi bahwa mereka berencana untuk kembali beroperasi di masa depan.
Kepastian mengenai kelanjutan bisnis dan produksi, di sisi lain, masih menjadi tanda tanya. Banyak konsumen yang ditinggalkan dalam ketidakpastian mengenai layanan purna jual dan ketersediaan suku cadang.
Langkah-Langkah Strategis Neta di Indonesia
Neta baru-baru ini mengumumkan beberapa langkah strategis setelah prinsipal melakukan restrukturisasi. Salah satu keputusan penting adalah mengalihkan layanan utama konsumen kepada pihak ketiga, yang dapat mempengaruhi hubungan antara konsumen dan merek.
Sebagai bagian dari transisi tersebut, Neta juga telah memperbarui outlet layanan purna jual resmi mereka. Ini mencakup memperluas jangkauan layanan untuk memastikan konsumen tetap mendapatkan dukungan yang diperlukan.
Beberapa nama yang tercantum sebagai mitra baru termasuk Otoklix di seluruh Indonesia dan Anma Mobil di Tangerang. Dengan langkah ini diharapkan dapat mengurangi dampak negatif di kalangan pemilik mobil Neta yang telah terlanjur membeli kendaraan.










