Penjualan mobil di China menghadapi tantangan serius dengan proyeksi stagnasi yang menggarisbawahi kompleksitas pasar otomotif terbesar di dunia ini. Meski tercatat adanya pertumbuhan pada tahun 2025, pertumbuhannya jauh lebih lambat dibandingkan tahun sebelumnya, menandakan dorongan tertentu dalam dinamika ekonomi dan permintaan.
Data terbaru menunjukkan bahwa meski ada peningkatan 3,9 persen dalam penjualan, hal ini tidak sebanding dengan pertumbuhan 5,3 persen di tahun 2024. Dengan catatan paling lambat dalam tiga tahun terakhir, para analis mulai khawatir akan masa depan industri otomotif di negara ini.
Perkembangan terbaru mengindikasikan bahwa mobil listrik dan plug-in hybrid semakin populer, mengungguli kendaraan berbahan bakar bensin. Namun, laju pertumbuhan penjualan kendaraan ini juga mengalami pelambatan signifikan, menunjukkan bahwa adopsi teknologi baru pun tidak terlepas dari tantangan yang kompleks.
Faktor Penyebab Melambatnya Penjualan Mobil di China
Melambatnya penjualan mobil di China tidak lepas dari kondisi ekonomi domestik yang semakin melemah. Di kuartal terakhir tahun 2025, banyak kota yang mulai mengurangi subsidi untuk program tukar tambah mobil, mempengaruhi keputusan konsumen untuk membeli kendaraan baru.
Kondisi ini diperparah dengan kekurangan dana di berbagai provinsi, yang berakibat pada stagnasi permintaan. Para produsen mobil terpaksa mencari alternatif dengan melebarkan sayap ke pasar luar negeri dalam usaha menutupi penurunan penjualan dalam negeri.
Berdasarkan laporan, produsen mobil listrik seperti BYD mengalami pertumbuhan penjualan terendah dalam lima tahun terakhir. Meski begitu, ekspor mereka mencapai rekor lebih dari satu juta kendaraan, menandakan potensi pasar internasional yang masih menjanjikan.
Persaingan yang Meningkat dan Strategi Ekspansi
Dalam situasi persaingan yang semakin ketat, produsen mobil bercermin pada kekuatan ekspor untuk mendongkrak angka penjualan. Sepanjang tahun 2024, pengiriman mobil dari China telah meningkat secara signifikan, dengan total mencapai 5,79 juta unit, menunjukkan semangat internasionalisasi industri otomotif.
Sementara itu, ekspor kendaraan listrik murni melonjak hingga 48,8 persen, menunjukkan tingginya permintaan global terhadap teknologi ramah lingkungan. Namun, tantangan tetap ada, dengan prediksi bahwa pertumbuhan ekspor EV dapat melambat di tahun-tahun mendatang.
Proyeksi pertumbuhan yang lambat di sektor kendaraan bermotor menjadi perhatian tersendiri bagi pelaku industri, dengan sebagian besar dari mereka merencanakan strategi untuk memperluas jaringan mereka dan mencari peluang baru di pasar luar negeri.
Subsidi dan Dampaknya Terhadap Industri Otomotif
Perubahan kebijakan subsidi di China menjadi salah satu faktor yang memengaruhi penjualan mobil. Sebelumnya, subsidi mencapai 20.000 yuan untuk tukar tambah kendaraan lama dengan yang baru, namun kini mengalami revisi yang menambah tekanan pada produsen.
Dengan ketentuan baru yang diperkenalkan, insentif untuk kendaraan berharga lebih rendah berpotensi berkurang, padahal kendaraan-kendaraan tersebut mendominasi penjualan di pasar. Ini menciptakan kekhawatiran di kalangan produsen bahwa penurunan permintaan di sektor kendaraan umum akan semakin terasa.
Survei terbaru menunjukkan bahwa hampir 41 persen dealer otomotif meramalkan target penjualan akan lebih rendah di tahun 2026. Sementara 18,1 persen responden memprediksi bahwa pasar akan mengalami penurunan lebih dari 10 persen pada tahun ini.










