Penjualan mobil listrik di Indonesia selama tahun 2025 mengalami kenaikan yang cukup signifikan, mencapai angka 103.931 unit. Dengan begitu, kontribusi mobil listrik terhadap wholesales nasional mencapai lebih dari 12 persen, mencerminkan pergeseran yang terjadi dalam preferensi konsumen terhadap kendaraan ramah lingkungan.
Berdasarkan data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia, permintaan untuk kendaraan listrik di tahun 2025 melonjak hingga 141 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada 2024, angka wholesales hanya tercatat sebanyak 43.188 unit, menunjukan tren positif yang sangat menggembirakan bagi industri otomotif dalam negeri.
Namun, meskipun angka penjualan meningkat, produksi mobil listrik oleh pabrikan di dalam negeri justru mengalami penurunan. Hal ini menjadi sorotan karena sebagian besar distribusi kendaraan listrik di tahun lalu berasal dari impor CBU, yang mengindikasikan ketergantungan Indonesia pada produk luar negeri.
Akhir Tahun 2025: Tren Mobil Listrik di Indonesia
Produksi mobil listrik di Indonesia tercatat mengalami penurunan sebesar 4 persen pada 2025, hanya mencapai 24.727 unit. Pada tahun 2024 angka produksi tersebut masih berada di angka 25.861 unit, mengindikasikan adanya tantangan dalam meningkatkan kapasitas produksi domestik.
Jumlah distribusi yang rendah menunjukkan bahwa pasar mobil listrik di Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh produk luar. Hal ini menandakan perlunya upaya lebih lanjut untuk meningkatkan fasilitas produksi lokal agar dapat memenuhi permintaan yang terus meningkat.
Di sisi lain, wholesales mobil elektrifikasi jenis hybrid menunjukkan pertumbuhan sebesar 10 persen, dengan total mencapai 65.943 unit. Meskipun pertumbuhannya tidak secepat mobil listrik murni, namun pertumbuhan yang ada menunjukkan adanya minat yang semakin besar terhadap teknologi ramah lingkungan.
Tantangan dalam Produksi Kendaraan Listrik di Dalam Negeri
Produksi Plug-In Hybrid Electric Vehicle (PHEV) juga terdampak, dengan pertumbuhan yang mencapai 3.775 persen di tahun 2025 menjadi 5.270 unit. Angka tersebut relatif baru mengingat produksinya baru dimulai tahun lalu dengan 6.024 unit.
Dengan demikian, meningkatnya produksi PHEV merupakan langkah positif menuju diversifikasi pilihan kendaraan ramah lingkungan. Namun, tantangan yang dihadapi oleh para produsen mobil listrik masih beragam, mulai dari infrastruktur hingga kebijakan yang mendukung perkembangan industri ini.
Gaikindo juga mencatat adanya penurunan dalam wholesales mobil harga terjangkau dan ramah lingkungan, seperti Low Cost Green Car (LCGC), yang turun sebesar 31 persen menjadi 122.686 unit. Hal ini menimbulkan pertanyaan terkait daya tarik kendaraan ramah lingkungan dalam kategori yang lebih terjangkau bagi konsumen.
Perbandingan Penjualan Mobil antara Tahun 2024 dan 2025
Mengamati hasil penjualan selama tahun 2025, total penjualan mobil berhenti di angka 803.687 unit, dengan retail mencapai 833.692 unit. Meskipun angka tersebut melampaui target wholesales yang ditetapkan oleh Gaikindo sebesar 780 ribu unit, realitasnya masih jauh dari pencapaian tahun 2024.
Pada tahun 2024, total wholesales terdaftar sebanyak 865.723 unit, sedangkan retail mencapai 889.680 unit, menunjukkan potensi pasar yang lebih besar pada periode sebelumnya. Hal ini menjadi tantangan bagi industri otomotif untuk meraih kembali momentum pertumbuhan.
Gaikindo yang mewakili berbagai merek kendaraan roda empat dan lebih juga mencatat bahwa ketidakstabilan dalam penjualan di pasar terdapat hubungan erat dengan ketidakpastian ekonomi dan perubahan perilaku konsumen. Semua ini berkontribusi terhadap dinamika yang terjadi dalam industri otomotif nasional.











