Pasar mobil di Indonesia menghadapi tantangan serius seiring dengan penurunan penjualan unit, terutama untuk segmen mobil harga terjangkau yang ramah lingkungan. Hal ini dapat ditelusuri pada penurunan daya beli konsumen, khususnya di kalangan kelas menengah yang terasa semakin menekan. Kelesuan ini membuat permintaan mobil, terutama jenis Low Cost Green Car (LCGC), mengalami penurunan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan bahwa distribusi mobil LCGC ke dealer turun sebesar 31 persen pada 2025, menghasilkan angka distribusi hanya 122.686 unit. Pada tahun sebelumnya, angka ini mencapai 176.766 unit, menunjukkan adanya tren penurunan yang mengkhawatirkan di pasar otomotif domestik.
Pengamat ekonomi melihat kondisi ini sebagai indikasi berkurangnya minat konsumen terhadap pembelian mobil, khususnya mobil berbahan bakar minyak. Hal ini juga sejalan dengan tingginya tekanan yang dihadapi oleh kelas menengah di Indonesia, yang berpegang pada mobilitas dan kebutuhan ekonomi yang semakin ketat.
Pola Pembelian Mobil di Kalangan Konsumen Indonesia
Pembelian mobil di Indonesia mayoritas terfokus pada rentang harga di antara Rp100 juta hingga Rp500 juta. Dalam kategori ini, mobil Multi-Purpose Vehicle (MPV) menjadi pilihan favorit, terutama bagi keluarga Indonesia yang membutuhkan kendaraan luas dan fungsional.
Meski demikian, konsumen pada segmen ini cenderung sangat sensitif terhadap perubahan harga dan situasi ekonomi yang tidak stabil. Keberadaan ketidakpastian ini menyebabkan konsumen lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan untuk membeli, yang mengakibatkan penurunan permintaan secara keseluruhan.
Tren downtrading menjadi fenomena menarik di tengah tekanan terhadap daya beli. Konsumen yang sebelumnya mempertimbangkan mobil baru kini mulai beralih ke pilihan mobil bekas. Hal ini mencerminkan adaptasi kebutuhan konsumen yang tengah berjuang mempertahankan daya beli.
Perkembangan Penjualan Mobil Bekas dan Listrik
Meskipun penjualan mobil baru mengalami penurunan, penjualan mobil bekas tetap menunjukkan pertumbuhan berkelanjutan. Pergerakan ini dapat dipahami sebagai respons masyarakat terhadap situasi ekonomi yang menantang, di mana banyak orang memilih alternatif yang lebih terjangkau.
Di sisi lain, pasar mobil listrik menunjukkan tanda-tanda pergerakan positif. Penjualan mobil listrik berbasis baterai mencatatkan peningkatan signifikan, yang membantu menghidupkan kembali antusiasme konsumen terhadap mobil baru di Indonesia.
Data menunjukkan bahwa penjualan mobil listrik pada tahun 2025 mencapai 103.931 unit, melampaui angka penjualan 2024 yang hanya 43.188 unit. Kenaikan sebesar 141 persen ini menandakan bahwa semakin banyak konsumen yang beralih ke kendaraan ramah lingkungan.
Tantangan dan Peluang untuk Industri Otomotif Indonesia
Dengan melemahnya daya beli, industri otomotif Indonesia dihadapkan pada tantangan yang kompleks. Perubahan pola konsumsi masyarakat dan preferensi terhadap kendaraan berkelanjutan akan terus menjadi perhatian pabrikan mobil dalam mengembangkan strategi pemasaran mereka.
Strategi inovatif serta kebijakan pemerintah mengenai kendaraan elektrifikasi menjadi kunci dalam memperkuat daya saing industri otomotif nasional. Mendorong pertumbuhan mobil listrik sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan menjadi agenda penting untuk memitigasi dampak negatif dari penurunan daya beli.
Kedepannya, pabrikan dituntut untuk merespons perubahan ini dengan lebih cepat. Penyesuaian model produk dan strategi penjualan harus disesuaikan agar semakin relevan dengan kebutuhan dan preferensi pelanggan yang terus berkembang.










