Suzuki Motor mengambil langkah signifikan dengan memutuskan untuk menjual pabriknya di Thailand kepada Ford Motor. Keputusan ini diambil setelah operasional produksi dihentikan pada akhir tahun 2025, yang disebabkan oleh kompetisi yang semakin ketat dengan produsen mobil asal China.
Menurut juru bicara Suzuki, penjualan pabrik ini merupakan respons terhadap target penetrasi mobil subkompak di Thailand yang belum tercapai. Data dari Toyota Motor Thailand mencatat penurunan volume penjualan Suzuki sebesar 14 persen antara Januari dan November 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepada media, Suzuki menjelaskan bahwa keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk penguatan nilai baht. Hal ini semakin mendorong keputusan mereka untuk menjual pabrik yang berlokasi di Provinsi Rayong tersebut.
Suzuki Jual Pabrik di Thailand Akibat Persaingan yang Ketat
Pabrik yang akan dijual ini terletak di dekat fasilitas Ford yang ada di wilayah yang sama, dengan luas tanah mencapai 66 hektar dan bangunan seluas 65 ribu meter persegi. Kesepakatan penjualan ini menunjukkan bahwa Ford mengincar untuk memperluas operasionalnya di Thailand melalui akuisisi tersebut.
Proses penjualan pabrik ini telah resmi dilakukan dengan penandatanganan perjanjian antara kedua perusahaan. Meskipun nilai akuisisi belum diungkapkan, pengalihan aset dan tanah dijadwalkan akan dilakukan dalam beberapa bulan ke depan, menandakan transisi yang cepat dalam industri otomotif tersebut.
Strategi penjualan pabrik ini mencerminkan perubahan dalam target dan pendekatan bisnis Suzuki di pasar otomotif Thailand. Dengan masuknya pemain baru dari China, posisi dominan Suzuki dan produsen Jepang lainnya terus tertekan.
Dampak Penetrasi Mobil Subkompak Terhadap Penjualan
Pangsa pasar mobil subkompak di Thailand menunjukkan tantangan besar bagi produsen Jepang. Sejak tahun 2020, dominasi pasar Jepang yang sebelumnya mencapai 90 persen mulai tergerus, hingga kini menyusut menjadi 69 persen karena hadirnya pesaing dari China yang semakin agresif.
Pabrikan China mengalami peningkatan pangsa pasar yang signifikan, dari 5 persen di 2022 menjadi 21 persen pada tahun 2025. Kenaikan ini mencerminkan ketertarikan konsumen dan kemampuan produksi yang kuat dari produsen China, sering kali menawarkan produk dengan harga yang lebih kompetitif.
Situasi ini membuat produsen Jepang lain mengikuti langkah Suzuki dengan menyesuaikan operasional. Misalnya, Honda baru-baru ini menggabungkan dua pabriknya, sementara Nissan menghentikan operasional salah satu pabriknya, dan Mitsubishi juga menghentikan produksi di salah satu dari tiga pabriknya di Thailand.
Strategi Baru untuk Bertahan di Pasar yang Kompetitif
Perubahan dalam strategi bisnis ini menunjukkan bahwa produsen Jepang perlu melakukan penyesuaian untuk bertahan di industri yang terus berubah. Pendekatan inovatif dan adaptif menjadi kunci untuk menghadapi tantangan di pasar yang dipenuhi dengan berbagai pemain baru.
Dengan meningkatnya persaingan, fokus pada efisiensi produksi dan penyesuaian produk menjadi sangat penting. Para ahli industri menyarankan agar produsen lama harus lebih responsif dalam memahami kebutuhan konsumen serta tren pasar yang selalu berubah.
Dalam konteks ini, strategi pemasaran yang lebih agresif dan diversifikasi produk juga sangat dianjurkan. Hal ini diharapkan dapat memulihkan kembali pangsa pasar yang hilang serta menarik kembali konsumen yang beralih ke produk dari produsen baru.










