Penjualan kendaraan listrik di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, namun mayoritas konsumen masih terdiri dari kelompok yang dikenal sebagai early adopter dan early majority. Sebagian besar dari mereka bukanlah pembeli mobil pertama, melainkan termasuk dalam kategori kalangan menengah atas yang berpenghasilan lebih tinggi.
Hasil riset yang dilakukan oleh sebuah organisasi menunjukkan bahwa perubahan perilaku menjadi kunci dalam transisi ini dan menjadi fokus utama dalam memahami dinamika pasar otomotif saat ini. Pengetahuan ini dibutuhkan oleh berbagai pihak terkait industri otomotif untuk mengetahui tren yang berkembang.
“Peralihan ini lebih menyoroti perubahan perilaku konsumen dibandingkan perluasan pasar baru,” kata Asti Putri, salah satu pendiri dan direktur riset di organisasi tersebut.
Pola Pembelian Mobil Listrik di Kalangan Konsumen
Kebanyakan konsumen yang membeli mobil listrik cenderung melakukannya karena alasan psikologis. Mereka merasa bangga untuk menjadi bagian dari kalangan early adopter, menikmati peran mereka sebagai trend setter dengan gambaran gaya hidup modern yang terkini.
Sementara itu, faktor lingkungan menjadi motivasi yang bersifat sekunder dalam keputusan pembelian mereka. Proses pengambilan keputusan untuk membeli mobil listrik mirip dengan pembelian kendaraan berbahan bakar fosil, di mana pengaruh dari orang-orang di sekitar sangat signifikan.
Media sosial dan influencer otomotif juga berperan penting dalam memberikan informasi. Banyak konsumen mengandalkan ulasan produk dan perbandingan merek yang diunggah di platform penyimpanan informasi ini sebagai referensi sebelum memutuskan untuk membeli mobil listrik.
Segmentasi Usia Pembeli Kendaraan Listrik
Dari segi demografi, pembeli mobil listrik dapat dibagi menjadi tiga kelompok utama berdasarkan usia. Pertama adalah kelompok usia 25-35 tahun yang sedang berupaya membangun karier mereka.
Selanjutnya adalah kelompok usia 36-50 tahun yang sudah mapan dalam kehidupan keluarga dan pekerjaannya. Terakhir, ada kelompok di atas 50 tahun yang ingin tetap memiliki mobilitas nyaman tanpa dibebani biaya operasional yang tinggi.
Pembeli dari kelompok usia ini juga lebih memperhatikan aspek ekonomi, mengingat bahwa biaya operasional kendaraan listrik jauh lebih efisien, terutama bagi mereka yang memiliki mobilitas tinggi. Insentif pajak yang lebih rendah bagi mobil listrik semakin meningkatkan daya tarik pembelian tersebut.
Perkembangan Penjualan Mobil Listrik Tahun 2025
Data dari asosiasi industri menunjukkan bahwa penjualan mobil listrik di Indonesia terus meningkat. Hingga bulan Oktober 2025, penjualan mobil listrik berbasis baterai mencapai angka 69.146 unit, suatu lompatan dibandingkan dengan angka penjualan seluruh tahun 2024 yang hanya mencapai 43.188 unit.
Pada bulan Oktober 2025, penjualan mobil listrik mengalami lonjakan yang signifikan dengan penjualan mencapai 13.867 unit, melanjutkan tren positif yang telah teramati sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa minat terhadap kendaraan listrik terus tumbuh pesat di kalangan konsumen.
Tren positif juga terlihat pada segmen mobil hybrid plug-in (PHEV), di mana penjualan hingga Oktober mencapai 3.798 unit, dibandingkan dengan jumlah penjualan yang sangat rendah pada tahun sebelumnya. Sementara itu, penjualan mobil hybrid pada tahun ini belum menunjukkan pertumbuhan yang sama.
Tantangan Menuju Adopsi Massal Mobil Listrik
Claudius Surya dari lembaga penelitian menyatakan bahawa mencapai fase adopsi massal membutuhkan berbagai kolaborasi lintas sektor. Konsistensi dalam kebijakan dan pemahaman yang jelas mengenai arah industri otomotif sangat diperlukan.
Pendidikan publik yang menekankan manfaat praktis dari kendaraan listrik juga menjadi kunci dalam meningkatkan kepercayaan konsumen. Aspek ini sangat penting agar masyarakat lebih akrab dengan teknologi yang sedang berkembang.
Kepercayaan konsumen juga dipengaruhi oleh kualitas infrastruktur pengisian kendaraan listrik, layanan purna jual, serta ketersediaan suku cadang. Oleh karena itu, semua pihak terkait harus bekerja sama untuk memastikan bahwa generasi kendaraan listrik berikutnya dapat mengatasi tantangan-tantangan tersebut.










