Kebakaran yang melanda pemukiman di Jakarta Barat pada Minggu sore, 16 November 2025, mengakibatkan kerugian besar bagi masyarakat setempat. Sekitar 50 rumah hangus terbakar, dan kepanikan melanda warga yang berusaha menyelamatkan diri dan harta benda mereka.
Ketua RW setempat, Maulana Sani, menyatakan bahwa peristiwa tragis ini diawali dengan suara dentuman keras. Suara tersebut, yang berasal dari kabel Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) yang putus, menjadi pemicu awal kebakaran yang meluas.
Warga sekitar terkejut ketika asap mulai membesar dan api menjalar dengan cepat. “Dari kabel, percikan apinya bikin kebakaran langsung di banyak titik,” kata Maulana, kebingungan melihat api merambat di berbagai lokasi dalam wilayah RW 04.
Penyebab Kebakaran dan Dampak yang Dirasakan Warga
Maulana Sani menjelaskan bahwa percikan api dari kabel SUTET memicu kebakaran di lingkungan yang padat tersebut. Kejadian ini bukan hanya merenggut harta benda, tetapi juga menciptakan ketakutan dan kehilangan bagi banyak keluarga.
Warga berhamburan keluar rumah, mencoba menyelamatkan diri dan barang berharga. Dalam kondisi panik, mereka saling membantu, berusaha memadamkan api meskipun alat dan pengetahuan mereka terbatas.
Selain kedalaman kerugian materi, dampak psikologis yang dialami oleh korban juga sangat signifikan. Banyak keluarga yang harus kehilangan tempat tinggal dan harus mencari tempat berteduh dengan perlengkapan yang minim.
Tindakan Segera yang Ditempuh oleh Pihak Berwenang
Mengetahui potensi bahaya yang lebih besar, Maulana segera menghubungi pihak PLN untuk mematikan aliran listrik di area tersebut. Tindakan ini diambil guna mencegah kebakaran susulan yang dapat memperparah situasi.
Pihak PLN menjelaskan bahwa mereka segera mengirim tim untuk memastikan kabel yang jatuh tidak mengandung aliran listrik. Upaya ini dilakukan untuk menghindari risiko keselamatan bagi warga dan tim pemadam kebakaran yang bertugas.
Melihat situasi semakin memburuk, tim pemadam kebakaran dikerahkan untuk mengendalikan api. Mereka bekerja keras meskipun akses jalur yang sempit membuat proses pemadaman menjadi lebih menantang.
Keterlibatan Masyarakat dalam Penanganan Kebakaran
Masyarakat setempat juga berperan aktif dalam mencari cara untuk memadamkan api sebelum kedatangan petugas. Mereka menggunakan peralatan seadanya untuk mengalihkan api dan mencegahnya menyebar lebih jauh.
Solidaritas antarwarga sangat terlihat dalam situasi ini. Beberapa warga membantu menyelamatkan barang-barang berharga dan mengevakuasi anak-anak serta orang tua dari area berisiko tinggi.
Kegiatan pemadaman ini tidak lepas dari risiko, tetapi kepedulian terhadap sesama telah menjadi motivasi utama bagi mereka yang terlibat. Semangat gotong royong ini menunjukkan bahwa dalam situasi buruk, komunitas dapat bersatu untuk saling membantu.











