Situasi yang melibatkan penagihan oleh debt collector terhadap Sarwendah, istri Ruben Onsu, kembali menjadi perhatian publik. Kuasa hukum Ruben, Minola Sebayang, menjelaskan bahwa tindakan tersebut tidak hanya menunjukkan adanya kesalahpahaman, tetapi juga tidak mengikuti prosedur yang tepat, terutama terkait alamat yang salah dalam penagihan tersebut.
Minola dengan tegas menambahkan bahwa masalah tunggakan cicilan mobil yang diasosiasikan dengan Ruben tidak sebesar yang dibicarakan. Dia mengatakan bahwa keterlambatan pembayaran itu terjadi dalam jangka waktu yang sangat singkat dan tidak berdampak signifikan.
Karena keterlambatan pembayaran yang hanya berlangsung satu hari, Minola mempertanyakan alasan di balik tindakan penagihan yang agresif tersebut. Pihaknya merasa ada ketidakadilan, terutama jika prosedur standar tidak diikuti sebelum menjalankan tindakan penagihan.
Polemik Penagihan yang Tidak Sesuai Prosedur
Menariknya, kejadian ini memunculkan berbagai pendapat tentang bagaimana debt collector seharusnya beroperasi. Secara hukum, tindakan mendatangi rumah orang lain untuk melakukan penagihan tanpa melalui langkah-langkah yang tepat bisa dianggap tidak sah.
Minola berpendapat bahwa seharusnya pihak leasing dapat menghubungi Ruben terlebih dahulu sebelum mengambil langkah yang mengganggu keluarga lain. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi yang buruk bisa berpotensi menimbulkan masalah yang lebih besar.
Kendati demikian, fokus utama tetap saja pada lokasi penagihan yang salah. Mengingat bahwa mobil yang dimaksud terdaftar atas nama Ruben, seharusnya penagihan dilakukan sesuai dengan alamat yang tertera pada dokumen resmi.
Dampak Negatif Terhadap Nama Baik Ruben
Seiring dengan berkembangnya isu ini, Ruben mulai merasakan dampak negatif dari pemberitaan di media. Menurut Minola, hal ini cukup menjengkelkan dan tidak adil bagi Ruben, yang selama ini berusaha mempertahankan reputasi baiknya.
Walaupun telah berupaya untuk bertanggung jawab dalam urusan keuangan, termasuk memenuhi kewajiban finansial terhadap mantan istri dan anak-anak, munculnya berita ini justru membuat citranya tercoreng. Minola memberikan penjelasan tentang komitmen finansial Ruben yang sangat besar kepada keluarganya.
Kewajiban yang dimiliki Ruben tidak hanya terbatas pada cicilan mobil, tetapi juga pada berbagai kebutuhan yang berkaitan dengan tanggung jawab keluarganya. Hal ini menunjukkan bahwa situasi yang terjadi adalah lebih kompleks daripada sekadar tunggakan pembayaran.
Prioritas Keluarga dalam Kewajiban Finansial
Minola menyampaikan bahwa keterlambatan dalam pembayaran cicilan mobil bisa jadi disebabkan oleh prioritas Ruben yang lebih mengarah pada kebutuhan keluarganya. Dia menekankan bahwa dalam situasi seperti ini, penting untuk mempertimbangkan bagaimana setiap keputusan keuangan diambil.
Ruben juga memiliki kewajiban lain yang harus dipenuhi, seperti memberikan nafkah untuk mantan istri dan anak-anaknya. Dengan nominal yang cukup besar, yakni Rp200 juta per bulan, hal ini menunjukkan betapa besar kontribusi yang diberikan meskipun status mereka telah berpisah.
Dari perspektif Minola, seharusnya masyarakat dapat lebih memahami posisi Ruben dalam hal ini. Tindakan yang diambil oleh leasing dan debt collector haruslah dipertanyakan, terutama dalam konteks tanggung jawab yang diemban seseorang setelah menjalani perceraian.










