Jelang akhir tahun 2025, pasar saham Indonesia kembali menunjukkan volatilitas yang signifikan. Pada penutupan perdagangan Senin, 15 Desember 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan, di mana terjadi pelemahan tipis sebesar 0,13 persen atau 10,83 poin, mengakhiri sesi di level 8.649.
Pergerakan IHSG selama sesi perdagangan terlihat fluktuatif, dengan rentang mimpi yang mencakup area 8.623 hingga puncak 8.721. Jumlah total transaksi yang tercatat pun mencolok, mencapai Rp 33,34 triliun dengan frekuensi transaksi sebanyak 3,45 juta kali.
Di antara sektor-sektor yang terpengaruh, sektor energi mencatatkan penurunan terparah, jatuh sebanyak 3,45 persen. Selain itu, sektor infrastruktur dan bahan baku juga menghadapi penurunan signifikan, masing-masing tergerus 1,94 persen dan 1,40 persen.
Tren Penurunan IHSG dan Faktor Penyebabnya
Kendati IHSG menunjukkan penurunan, sektor kesehatan mencuri perhatian dengan kenaikan tertinggi mencapai 3,50 persen. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun beberapa sektor mengalami tekanan, ada sektor-sektor lain yang justru dapat memanfaatkan situasi ini.
Sektor keuangan juga terlihat menguat, dengan kenaikan sebesar 2,20 persen, sedangkan sektor non-siklikal turut mengalami peningkatan sebesar 0,50 persen. Pergerakan ini menandakan adanya diversifikasi dalam preferensi investasi di kalangan para pelaku pasar.
Tim analis dari salah satu perusahaan sekuritas menyebutkan bahwa merosotnya IHSG disebabkan oleh rotasi pilihan saham. Investor cenderung beralih dari saham konglomerasi ke saham-saham bluechip, khususnya dari kelompok saham perbankan yang sempat mendorong IHSG ke zona positif.
Analisis Teknikal IHSG dan Prospek Ke Depan
Dari sudut pandang teknikal, indikator Stochastic RSI mendekati level oversold, namun belum menunjukkan tanda-tanda adanya pembalikan arah. Sementara itu, MACD menunjukkan pelebaran histogram negatif, dengan IHSG tetap ditutup di bawah level moving average 5 hari (MA5).
Ke depan, pelaku pasar diharapkan tetap waspada terhadap fluktuasi yang mungkin terjadi. Meskipun ada sektor-sektor yang menunjukkan perbaikan, tantangan global dan kondisi ekonomi domestik tetap perlu diperhatikan dengan seksama.
Pada saat yang sama, beberapa emiten menunjukkan performa positif di pasar, menurut laporan dari perusahaan sekuritas. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk mencatatkan lonjakan harga saham sebesar 7,34 persen, diikuti oleh PT Sarana Menara Nusantara Tbk yang naik 5,56 persen, serta PT Kalbe Farma Tbk yang mengalami penguatan 5,17 persen.
Dampak Aturan Baru Pasar Modal Terhadap Perdagangan Saham
Salah satu perkembangan penting adalah penerapan aturan Non-Cancellation Period oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Aturan ini bertujuan untuk meningkatkan transparansi perdagangan dan meminimalisir manipulasi pasar yang sering terjadi dalam waktu pendek.
Melalui implementasi aturan ini, investor tidak diizinkan untuk membatalkan pesanan pembelian saham dalam periode tertentu. Hal ini diharapkan akan mengurangi volatilitas yang tidak wajar dan meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar modal.
Aturan ini mulai berlaku pada Senin, 15 Desember 2025, dan diharapkan akan memberikan dampak positif jangka panjang bagi stabilitas pasar saham. Pelaku pasar harus menyesuaikan strategi investasi mereka untuk beradaptasi dengan regulasi ini.
Secara keseluruhan, meskipun IHSG mengalami penurunan, ada tanda-tanda perbaikan di sektor-sektor tertentu. Para analis percaya bahwa pasar akan dapat pulih dari tekanan yang terjadi, tergantung pada respons investor terhadap berbagai perkembangan di pasar dan ekonomi global.










