Bursa Asia-Pasifik mengalami kelesuan pada hari pertama perdagangan tahun 2026. Sementara itu, sebagian besar bursa masih tutup karena berlanjutnya perayaan Tahun Baru 2026, hanya bursa Korea Selatan yang mencatatkan perdagangan.
Pertumbuhan ekonomi di kawasan ini, terutama di Singapura, menunjukkan hasil yang lebih baik dari yang diperkirakan. Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, mengumumkan bahwa ekonomi negara tersebut tumbuh 5,7 persen dibandingkan tahun lalu pada kuartal terakhir 2025.
Lonjakan pertumbuhan ini didorong oleh sektor manufaktur yang sangat kuat. Ini melebihi hasil pertumbuhan yang direvisi sebesar 4,3 persen pada kuartal sebelumnya, menunjukkan tren positif bagi perekonomian Singapura.
Perkembangan Bursa Saham di Asia dan Faktor Pendorongnya
Indeks acuan Australia, S&P/ASX 200, mengalami penurunan saat pembukaan pasar di hari pertama tahun ini. Di sisi lain, indeks Hang Seng Hong Kong menunjukkan peningkatan tipis, mencapai 25.648 poin.
Pada waktu yang bersamaan, banyak bursa lainnya di Asia masih ditutup, seperti di Jepang dan Tiongkok, yang sedang menikmati liburan tahun baru. Pasar Korea Selatan diharapkan buka satu jam kemudian, memberikan kesempatan bagi investor untuk menganalisis peluang yang ada.
Indeks Kospi Korea Selatan ditutup pada catatan yang positif, naik 0,21 persen dan mencetak rekor tertinggi baru. Sementara itu, indeks Kosdaq mengalami lonjakan hingga 1,32 persen, menunjukkan optimisme pasar di awal tahun ini.
Performa Saham di Wall Street Mengakhiri 2025
Di Wall Street, indeks S&P 500 mengalami penurunan 0,74 persen pada hari terakhir perdagangan tahun 2025. Meskipun demikian, indeks tersebut masih membukukan kenaikan yang signifikan sebesar 16,39 persen sepanjang tahun lalu.
Indeks Dow Jones Industrial Average juga mengalami penurunan sebesar 0,63 persen, tetapi berhasil mencatatkan kenaikan tahunan sebesar 12,97 persen. Hal ini menunjukkan bahwa pasar masih menunjukkan daya tahan meski ada gejolak di sektor teknologi.
Indeks Nasdaq Composite tumbang 0,76 persen pada akhir Desember, namun tetap mencatatkan pertumbuhan tahunan hingga 20,36 persen. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh minat investor yang tinggi terhadap teknologi dan kecerdasan buatan.
IHSG dan Prediksi Rekomendasi Saham untuk Tahun 2026
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan memasuki fase konsolidasi di awal tahun 2026. Pada penutupan perdagangan terakhir tahun lalu, IHSG berada di level 8.646, yang menunjukkan penguatan tipis sebesar 0,03 persen.
Para analis memprediksi bahwa IHSG akan mengalami volatilitas dalam waktu dekat, dengan beberapa saham potensial yang bisa memberikan cuan. Rekomendasi saham akan menjadi penting bagi para investor yang ingin mengoptimalkan portofolio mereka di tahun yang baru.
Optimisme terhadap pertumbuhan sektor-sektor tertentu, seperti keuangan dan teknologi, tetap ada meskipun kondisi bursa yang berfluktuasi. Investor diharapkan dapat mengambil langkah yang strategis agar dapat bertahan di pasar yang bergejolak.









