Banjir yang terjadi di Jakarta Utara pada hari Senin menimbulkan dampak besar bagi warga. Sekitar 282 orang dari dua kelurahan terpaksa mengungsi karena tingginya curah hujan yang melanda kawasan tersebut.
Menurut data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, daerah yang terkena dampak terparah adalah Kelurahan Lagoa dan Kebon Bawang. Pengungsian dilakukan di berbagai lokasi yang dianggap aman untuk warga.
Pihak BPBD melaporkan bahwa pergerakan air banjir mengakibatkan sembilan Rukun Tetangga (RT) di Jakarta Utara terendam. Ketinggian air bervariasi, dengan beberapa area mencapai 60 sentimeter.
Keadaan Terkini di Lokasi Pengungsian
Di Kelurahan Lagoa, sebanyak 257 jiwa dari 256 kepala keluarga telah mengungsi. Mereka ditampung di berbagai tempat, seperti masjid dan sekolah setempat.
Masjid Jamii Ar Ridho dan Mushola Al Ikhlas menjadi titik pengungsian utama. Keduanya menyediakan kebutuhan dasar bagi warga yang terkena banjir dan memerlukan tempat yang lebih aman.
Sementara itu, di Kelurahan Kebon Bawang, sebanyak 25 jiwa dari 12 kepala keluarga juga mengungsi. Mereka memilih Masjid Al Barokah dan Sekretariat RW setempat sebagai lokasi pengungsian.
Penanganan Banjir oleh Pemda Jakarta
Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta terus memantau situasi serta menyiapkan berbagai langkah darurat. Penyuluhan dan informasi tentang keamanan bagi pengungsi menjadi prioritas dalam pengelolaan bencana ini.
Langkah-langkah preventif juga dipersiapkan untuk menghindari bencana serupa di masa mendatang. Hal ini termasuk perbaikan drainase dan penanaman pohon di daerah yang rawan banjir.
Pemda Jakarta juga bekerja sama dengan warga untuk memberikan bantuan yang dibutuhkan, termasuk makanan dan obat-obatan. Kerjasama masyarakat dalam menghadapi situasi ini sangat penting.
Kondisi Infrastruktur dan Ketersediaan Layanan
Banjir tidak hanya berdampak pada warga, tetapi juga mengganggu infrastruktur kota. Jalan-jalan menjadi terputus dan mempengaruhi mobilitas warga yang terjebak dalam genangan air.
Banyak armada transportasi umum, seperti bus TransJakarta, tidak dapat beroperasi akibat kendala ini. Hal ini menambah kesulitan bagi warga yang berusaha menjangkau lokasi pengungsian maupun pelayanan darurat.
Pihak berwenang terus berupaya memperbaiki situasi. Namun, tantangan di lapangan cukup besar, terutama dalam hal ketersediaan alat berat untuk membersihkan saluran air yang tersumbat.










