Transformasi industri otomotif menuju kendaraan listrik menjadi tantangan signifikan bagi pemasok komponen mobil di Indonesia. Perubahan ini menyebabkan penyesuaian besar dalam cara pabrikan dan pemasok beroperasi, terutama ketika ketergantungan terhadap suku cadang konvensional mulai berkurang secara drastis.
Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM) mengonfirmasi dampak yang dirasakan anggotanya akibat pergeseran ini. Dalam upaya menjaga keberlangsungan bisnis, beberapa anggota terpaksa merumahkan sejumlah pegawainya, menandakan krisis dalam sektor ini.
Rachmat Basuki, Sekretaris Jenderal GIAMM, menjelaskan bahwa pemutusan hubungan kerja (PHK) mulai terjadi sejak pertengahan 2024 akibat ketidakpastian pasar otomotif yang sudah berlangsung sejak 2023. Penurunan permintaan ini memaksa pemasok untuk melakukan penyesuaian yang menyakitkan.
Perubahan Besar dalam Infrastruktur Automotif Indonesia
Pasar otomotif mencatat penurunan pemesanan komponen hingga 28 persen per Juli 2025, menurut laporan Rachmat. Hal ini berujung pada berkurangnya pasokan ke pabrikan dan mengakibatkan sejumlah divisi dalam industri terpaksa melakukan PHK terhadap karyawan.
Penguatan impor kendaraan truk CBU untuk sektor pertambangan juga berperan dalam melemahkan pasar. Meskipun segmen kendaraan listrik menunjukkan pertumbuhan, kendaraan ini memiliki kebutuhan komponen yang jauh lebih sedikit dibandingkan mobil konvensional.
Menurut Rachmat, penurunan yang terjadi adalah akumulasi dari berbagai faktor yang saling berhubungan. Penurunan total pasar otomotif lebih dari 38 persen memaksa industri komponen menyesuaikan diri dengan keadaan baru yang ada.
Impact Vakuasi Sumber Daya Manusia di Sektor Otomotif
Pekerja yang terdampak oleh situasi ini bervariasi, dengan laporan dari perusahaan anggota GIAMM menunjukkan PHK terjadi antara 3 persen hingga 23 persen. Rasio ini berbeda tergantung pada masing-masing perusahaan dan kemampuan mereka dalam menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi.
Secara keseluruhan, GIAMM mengawasi 250 perusahaan anggota yang terdiri dari berbagai ukuran, mulai dari yang kecil hingga semi padat karya. Ini menunjukkan betapa beragamnya ekosistem industri komponen di Indonesia yang kini menghadapi tantangan besar.
Pada saat yang bersamaan, Rachmat menekankan bahwa situasi ini sudah diprediksi beberapa tahun lalu. Peluang pasar yang lebih kecil untuk komponen tradisional menjadi salah satu alasan utama di balik perubahan besar ini.
Komponen yang Hilang dan Masa Depan Otomotif
Kemajuan teknologi kendaraan listrik tentunya mengurangi jumlah jenis komponen yang diperlukan untuk memproduksi mobil baru. Kendaraan listrik hanya memerlukan sekitar 20 ribu komponen, sementara mobil konvensional bergantung pada sekitar 30 ribu komponen untuk beroperasi dengan optimal.
Berdasarkan data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), kehilangan sekitar 10 ribu komponen yang tak lagi digunakan menunjukkan tantangan besar bagi produsen komponen otomotif. Beberapa komponen vital yang hilang dari daftar produksi termasuk mesin, transmisi manual, dan knalpot.
Dengan sejumlah besar pemutusan hubungan kerja dan penurunan produksi komponen, sektor ini berhadapan dengan ada tidaknya solusi jangka panjang untuk mengatasi tantangan ini. Masa depan industri otomotif di Indonesia jelas memerlukan adaptasi yang cepat dan efisien agar tidak tertinggal dalam persaingan global.